Angkara Taksub & Diperkudakan

(Published in Sinar Harian, 2 May 2012)

Ralat: Bukan untuk para demonstran atau pihak polis yang cintakan kedamaian.

Sudah lewat empat tahun sejak saya menulis untuk pembaca budiman – suatu keistimewaan maha agung buat saya. Dan selagi soal hak untuk berkumpul dan berhimpun secara aman masih diperkata, pembaca budiman sudah sedia maklum di mana paksi pendirian saya.

Ruangan minggu ini akan menyatakan satu persatu pengamatan peribadi saya tentang perangai dan ketaksuban sesetengah pihak semasa perhimpunan Bersih 3.0. Sabtu lepas, di Kuala Lumpur.

Saya menghormati hak setiap warganegara untuk berkumpul dan membantah secara aman. Sudah naik mua di muka menulis berkali-kali tentang hak di bawah Perkara 10(1)(a)dan(b) Perlembagaan Persekutuan.

Tetapi bila hak bersangkal misi peribadi, celaka Sabtu lepas terjadi.

Perhimpunan yang bermula dengan aman dan senyuman jadi gegak gempita songsang budaya, angkara segelintir demonstran yang taksub dengan ka’aabah politik masing-masing dan pihak berkuasa yang diperkuda tuan sendiri.

Saya kata ‘segelintir,’ bukan semua – tolong jangan putar belit kenyataan saya.

Apa yang tolol adalah bila orang-orang seperti saya yang kuat bertanya – memang dari kecil begitu, sehingga guru-guru dan ibu sendiri naik muak – dilabel sebagai “apa masalah?, moron, propagandist polis, anjing, manipulated,” dan macam-macam lagi bahasa kesat dalam nahu bahasa Inggeris dan Melayu yang sangat daif di laman Twitter.

Ini lah jadinya bila berguru kepalang ajar.

Bila ada yang berkicau di laman Twitter tentang tiga orang maut dirempuh kereta polis, saya cepat-cepat bertanya memohon kepastian. Nyata, kebenaran itu mahal, sementara menyebar berita panas tak berlapik bukti itu murahan.

Sebenarnya saya tidak ada masalah secara peribadi dengan orang-orang macam ini. Anggap sahaja bila saya bertanya dengan telus dan lantang, itu kerana saya memperjuangkan tekad untuk menulis apa yang benar. Bukan sewenang-wenang menulis mengikut nafsu baik di Twitter, Facebook mahupun ruangan ini.

Maaf kepada sesiapa yang terasa, I am calling your bluff. Kalau ada bukti nyata, sila tulis rebuttal kepada pihak editorial Sinar Harian dengan segera.

Juga saya tuliskan di sini, rasa hormat menggebu-gebu untuk aktivis seperti Padma. Selesai berdemo dengan aman, beliau mengajak rakan-rakan membersihkan Kuala Lumpur. Peguam seperti Syahredzan yang bersengkang mata, menggadai masa dalam memperjuangkan hak anak guam yang dinafikan khidmat guaman.

Mereka ini payah berkalih arah walau dituba pelbagai propaganda politik. Di mata saya, mereka berdua anak merdeka yang hakiki.

Kalau tidak tegar berdebat cara ilmuwan, maruah diri jadi taruhan. Bukan begitu, pembaca budiman?

Sasterawan dan aktivis sosial Indonesia, Wiji Thukul, dalam puisinya bertajuk Merontokkan Pidato, telah menyimpul pendapat saya tentang Kuala Lumpur yang berantakan Sabtu lepas. Begini bunyinya:

Bermingu-minggu ratusan jam


aku dipaksa


akrab dengan sudut-sudut kamar


lobang-lobang udara


lalat semut dan kecoa

tapi catatlah


mereka gagal memaksaku

aku tak akan mengakui kesalahanku


karena berpikir merdeka bukanlah kesalahan


bukan dosa bukan aib bukan cacat


yang harus disembunyikan

kubaca koran


kucari apa yang tidak tertulis


kutonton televisi


kulihat apa yang tidak diperlihatkan

kukibas-kibaskan pidatomu itu


dalam kepalaku hingga rontok
maka terang benderanglah:

ucapan penguasa selalu dibenarkan
laras senapan!

 tapi dengarlah


aku tak akan minta ampun


pada kemerdekaan ini

Mengimbau cara-cara Saleh Ben Joned yang selalu menyindir dalam puisi, mengata secara tersirat, saya pohon masa pembaca budiman untuk mencari mesej subliminal dalam frasa puisi Wiji Thukul itu.

Jangan sesekali kita minta ampun pada kemerdekaan ini. Lihatlah apa yang tidak perlihatkan, merintis bangsa cara orang budiman.

Melihat secara menyuluruh pasca Bersih 3.0. selepas Kuala Lumpur kembali bernafas seperti biasa, kotoran dan debu bantahan menipis, demonstran pulang ke rumah masing-masing, iluminasi kebangkitan rakyat masih kekal tidak tersangkal. Nyata, ada kekhilafan besar bila seramai itu bersuara. Sekarang para memanda menteri boleh tepuk dada tanya minda. Jangan tanya selera.

Dan untuk pihak pengajur, seperti yang selalu saya kata, sila nyahkan anasir politik dalam perjuangan anda. Mereka itu bukan si Jebat pejuang kebenaran, mereka itu menangguk di air yang keruh untuk jadi perdana menteri semata.

Membantah itu seribu cara, diam tidak bermakna takut, bersuara kecil tidak bererti kecut, enggan berarak di jalanan bukan bodoh. Ini tanah tumpah darah saya dan anda, saya lebih rela mati beragan, tak tentu batu nisan dari menjadi hamba ikutan tanpa pendirian. Alur pendidikan saya mengajar saya bertanya dan mengeluarkan pendapat seperti orang berakal – bukan untuk jadi wahana politik sesiapa.

Sila hormat kemerdekaan saya.

Dan jangan lupa pembaca budiman, luka angkara dipukul bisa sembuh, kereta yang rosak boleh diganti, tapi luka yang diguris mata pena, kekal sepanjang zaman.

About these ads

3 thoughts on “Angkara Taksub & Diperkudakan

  1. The pervading sense of proud defiance in your article rings loud and true throughout.The beautiful mersmerising prose in your mother tongue serves only to heighten your staunch adherence to truth and freedom,and your deep abhorrence of those cheap opportunists in the guise of paragons of political and nationalistic virtue, whose selfish personal agenda,if left unfettered, can very well spell doom and disaster to those things in our lives which we cherish the most.Please keep on writing.You bring a whiff of freshness and innocence to the all too mundane and predictable world of journalism(though you are no journo yourself).Cheers!

  2. Suka sgt Miche….. dlm dan terkesan…. dua2 pihak tiada yg salah n tiada yg betulll…. cuma yg terlibat… yg dimaksudkan…. yg d perkudakan.. perlu tanya iman, akal dan hati… apa nawaitu mereka?… setuju Miche… kalau berjuang sekadar menurut telunjuk orang…. 7 keturunan patut malu pd generasi sendiri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s